Review Die Brücke am Ibar ( jembatan sungai ibar ) : cerita manis disisi lain peperangan

Apa yg biasa ditawarkan sebuah film yg bertema peperangan? Perjuangan, survival, kritikan sosial tentang peperangan, drama kehidupan korban perang, atau kesetiaan tentara pada negara?. Dalam film besutan sutradara michaela kazele kita tidak akan mendapatkan semua itu. michaela kazele justru menampilkan sesuatu yg berbeda dari film berlatar belakang peperangan.

Berlatar belakanga Pada tahun 1999 saat perang sedang berkecamuk di tengah eropa, pesawat NATO mengebom kosovo untuk mencoba menghentikan perang saudara antara suku serb dan albanian. Meski berlatar belakang peperangan tapi michaela kazele justru lebih menceritakan kehidupan masyarakat biasa yg penuh dengan konflik masyarakat pada umumnya.

Jenius, jenius, jenius, ini adalah film yg sangat jenius dari segi cerita, tempat, latar belakang, dan penyutradaraannya. Film karya michaela kazele berdurasi 88 menit ini berlatar belakang perang antar suku serb dan albanian yg terjadi di kosovo pada tahun 1999. Michaela kazele mampu menampilkan sebuah ironi tentang jembatan sungai ibar yg seharusnya menjadi jemabatan penghubung justru menjadi pemisah antar dua suku yg sedang berkonflik.

Saya anggap film ini jenius karena memiliki premis yg begitu indah diawal hingga membawa kita ke sebuah konflik sederhana yg terjadi diantara 4 tokoh sentral yaitu danica seorang janda anak dua berasal dari suku serb yg suaminya tewas dalam masa peperangan, ramiz seorang albanian yg tak sengaja berada dirumah danica yg seorang serb dalam keadaan terluka, anak pertama danica yg menginnginkan sepeda untuk ikut tour de france dan anak kedua danika yg tak pernah mau bicara sejak kematian ayahnya.

Kita akan tahu bahwa ditengah film danica dan ramiz akan saling jatuh cinta, tapi bagaimana film ini akan berakhir?. Ini adalah kehebatan michaela kazele yg mampu menutup film ini dengan sangat manis. Meski berlatar peperangan tapi disini kita akan menemukan banyak scene dengan latar belakang pemandangan alam yg indah. Michaela kazele memang pintar memasukan beberapa unsur seperti dark komedi, drama sinetron antar warga yg umum terjadi, dan romantisme yg terjadi antara romeo dan juliet versi suku serb dan albanian.

Banyak hal yg bisa dipelajari oleh para sineas sineas muda indonesia dari michaela kazele dalam film ini, dimana mengangkat perang suku sebagai latar belakang film tapi justru hanya menampilkan cerita manis tentang kehidupan masyarakatnya.