Ketika Yg Waras Ngalah Dan Yg Gila Menang

 

 

Pernahkah kita mengingat istilah “yg waras ngalah”?, mungkin hanya dinegara ini yg mempunyai istilah “yg waras ngalah”, entah kapan dimulai dan siapa yg mulai istilah ini. Mungkin ini adalah sebuah itilah bercanda keseharian kita, tapi tanpa pernah kita sadari istilah ini mulai menjadi gaya hidup kita.

Menurutku mengalah itu baik asalkan sesuai tempat dan fungsinya, tapi pada saat ini hampir di semua element kehidupan kita dipaksa untu mengalah. Pertanyaannya, mengalah pada siapa? Orang gila? Jika kita mengalah yg menang siapa? Orang gila?

Sikap mengalah masyarakat saat ini sudah berada posisi yg sangat membahayakan dan akibatnya kita sudah tidak lagi menjadi manusia yg bener-bener bersikap manusia. Kita saat ini terlalu banyak berdiam diri dan tak peduli dengan situasi bahkan dengan lingkungan sekitar kadang kita mencoba menghindar.

Masalah terbesar mungkin bukan berada di istilah “yg waras ngalah” tapi berada pada sikap kita yg tak sengaja terpengaruh oleh oleh istilah itu. Akibat yg aling pasrah yg bisa kita rasakan bersama adalah terlalu banyaknya kita protes kepada setiap masalah social yg kita hadapi terutama politik.

Setiap permaslahan politik yg ada di negri ini selalu kita tanggapi dengan emsoi dan protes keras kepada pejabat dan anggota dewan, tapi kita ditanya kenapa ga kita aja yg maju? Jika kita melemparkan pertanyaan ini pasti kita mendapat jawaban yg penuh dengan alasan seperti “ah say ga pintar”, “saya ga ngerti politik”, ah ikut politik banyak musuhnya”.

Permasalahan politk di Negara ini selalu saja ditanggapi dengan kalimat protes, tapi apakah memprotes saja bisa memperbaiki kondis politik? Tentu saja tidak kan. Jika kita merasa bahwa kita layka dan pantas untuk menjadi pejabat atau anggita dewan, mengapa kita tidak terjun didunia politik dan memperbaikinya dari dalam?

Hasil dari hanya protes dan melemparkan kalimat “yg waras ngalah” menjadikan Negara ini dipimpin oleh orang-orang gila dan serakah. Melihat hal ini apa yg kita lakukan? Adakah kita mencoba membuat perubahan? Atau kita sudah menjadi manusia yg tenggelam dalam jurang ketakutan dan apatis terhdap kondisi sekitar? Masih pantaskah kita disebut manusia jika begini?

Jangankan untuk hal yg besar seperti politik. Untuk sesuatu hal yg kecil saja kadang kita hanya terdiam seperti melihat pencopet didalam bus, apa yg kita lakukan? Diam? Membiarkan sebuah tindak kejahatan terjadi didepan mata kita? Padahal membiarkan kejahatan terjadi itu Kita sama jahatnya dengan mereka meski kita tidak mengenal mereka sama sekali, karna diam melihat aksi kejahatan terjadi itu berarti membenarkan kejahatan itu. Mencoba mencegah kejahatan itu bukan unutk menjadi pahlawan tapi itu memang kewajiban manusia dalam hidup bermasyarakat unutk saling tolong menolong dan membantu orang lain dalam kesusahan.

Contoh kecil lainnya adalah masalah banjir kita terlalu banyak berkomentar tanpa bertindak. Entah sejak kapan Negara ini menjadi Negara yg bukan hanya miskin secara ekonomi tapi secara mental, moral dan etika Negara ini masih belum dewasa dalam bersikap. Kita semua tau itu semua telah terjadi dan kebanyakan yg kita yg lakukan adalah ga peduli dan hanya diam. Perlahan tapi pasti kita harus bangkit dari keterpurukan ini. Jangan mau lagi dipimpin sama orang orang gila. Sekarang kita harus merubah pola pikir “yg waras harus maju, yg gila harus disadarkan biar waras”.

Apakah kita tidak bosan selalu dipimpin oleh orang-orang yg gila jabatan, gila harta, gila wanita? Jika memang jawabannya iya. Jangan biarkan mereka orang-orang gila menang dalam pemilu, dan orang orang yg merasa dirinya waras harus maju menjadi wakil rakyat dan terjun ke dunia politik untuk memperbaiki kekacauannya politik yg saat sedang terjadi.

Terus kamu? Aku? Cari makan yuk laper nih…😀